Ketika dunia makin modern, teknologi berhamburan, tak jarang banyak dari manusia yang menemukan suatu kegiatan, kegiatan yang agaknya menurut saya hanya bisa dijelaskan oleh perasaan orang itu sendiri. Sebuah tindakan yang terlihat sepele tapi membuahkan makna yang sungguh mendalam bila ditafsir jauh ke dalam perasaan, sense, dan feeling. Sebuah pengabadian yang memerlukan sentuhan yang manis agar hasil yang terpampang menadi artistik dan menarik perhatian masyarakat luas. Saya sebenarnya baru akhir-akhir ini menyadari adanya atau eksisnya bakat ini dalam diri saya. Selama bertahun-tahun, hasil karya saya dipuji oleh orang-orang dalam lingkup keluarga saya. Saya masih lugu, dan hanya berprasangka: “ah, biasa saja, nothing’s special.” Ya, ‘nothing’s special’ itu kini menaungi diri saya. Saya mulai ‘terjerumus’ dalam hal-hal ini. Lensa, gambar, kreasi, dan artistik. Memang banyak kriteria dalam hobi saya ini, namun saya lebih memilih bebas agar apa yang ada di otak saya bisa saya karyakan tanpa terikat oleh batas-batas tertentu. Ya fotografi, sejak dulu saya tidak sadar dengan kapabilitas saya di bidang ini. Dulu saya belum mempunyai pengetahuan yang cukup luas tentang cara menggunakan kamera. Namu orang tua sayan jelas menyadari adanya suatu sentuhan artistik yang saya gunakan dalam mengambil gambar dalam setiap kesempatan di event-event keluarga. Pada kesempatan yang saya curahkan di artikel ini saya ingin berbagi ilmu dengan pra pembaca tentang apa yang dimaksud dengan fotografi, dan mungkin sekaligus membuktikan bahwa kami, fotografer, tidak hanya ‘bergaul’ dengan lensa-lensa kami.
Fotografi juga mengajarkan pada kita untuk melihat lebih dalam, menggali makna dan memahaminya sehingga menumbuhkan rasa cinta yang dapat menginspirasi untuk melangkah lebih jauh, melompat lebih tinggi, berlari lebih kencang, berbuat lebih banyak dan melahirkan energi positif yang mampu mejadi katalis perubahan ke arah yang lebih baik untuk semua. Fotografi memang merupakan sebuah jendela yang membuka cakrawala baru bagi kita, untuk menemukan kembali dunia yang ada di sekitar kita, untuk melihat dan menikmati segala keajaiban yang bisa membawa begitu banyak kegembiraan dan kebahagiaan pada hidup kita.
Fotografi diambil dari kata dalam Bahasa Inggris, yaitu photography, yang juga merupakan kata serapan dari kata dalam Bahasa Yunani yaitu "Fos" : Cahaya dan "Grafo" : Melukis/menulis. Jadi fotografi adalah proses melukis/menulis dengan menggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya atau yang biasa kami pakai yaitu adalah kamera. Prinsip fotografi adalah memokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghasilkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan (selanjutnya disebut dengan lensa). Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan merubah kombinasi ISO/ASA (ISO Speed), diafragma (Aperture), dan kecepatan rana (speed). Kombinasi antara ISO, Diafragma & Speed disebut sebagai pajanan (exposure).
Kecepatan film adalah istilah dalam fotografi untuk mengukur tingkat kesensitivitas atau kepekaan film foto terhadap cahaya. Film dengan kepekaan rendah (memiliki angka ISO rendah) membutuhkan sorotan (Inggris: exposure) yang lebih lama sehingga disebut slow film, sedangkan film dengan kepekaan tinggi (memiliki angka ISO tinggi) membutuhkan exposure yang singkat. Exposure atau pajanan adalah istilah dalam fotografi yang mengacu kepada banyaknya cahaya yang jatuh ke medium (film atau sensor gambar) dalam proses pengambilan foto. Untuk membantu fotografer mendapat setting paling tepat untuk pajanan, digunakan lightmeter. Lightmeter, yang biasanya sudah ada di dalam kamera, akan mengukur intensitas cahaya yang masuk ke dalam kamera. Sehingga didapat pajanan normal.
Diafragma (dalam Bahasa Inggris: diaphragm) adalah komponen dari lensa yang berfungsi mengatur intensitas cahaya yang masuk ke kamera. Diafragma lensa biasanya membentuk lubang mirip lingkaran atau segi tertentu. Ia terbentuk dari sejumlah lembaran logam (umumnya 5, 7, atau 8 lembar) yang dapat diatur untuk mengubah ukuran lubang (disebut tingkap) (dalam Bahasa Inggris: aperture) dimana cahaya akan lewat. Tingkap akan mengembang dan menyempit persis pupil di matamanusia. Karena fungsinya untuk menghentikan cahaya yang akan masuk ke bidang fokal, diafragma juga disebut sebagai stop, blind, field stop dan flare stop, dan untuk itu, diafragma selalu diletakkan pada jalan masuk antara subyek, lensa dan bidang fokal. Titik tengah tingkap pada diafragma merupakan sumbu optis dari sebuah lensa. Pengaruh beda jumlah lembaran logam dan bentuk lubang diafragma (tingkap) bisa dilihat saat penggunaan teknik pajanan, yaitu sumber cahaya akan mengembang menjadi bentuk bintang. Banyak lensa dan kamera mempunyai sistem diafragma mekanik yang diatur dengan sebuah pengungkit. Pengungkit ini bisa dioperasikan secara manual oleh fotografer dengan memutar semacam cincin di tabung lensa atau lewat badan kamera yang secara fisik memutar pengungkit. Lensa-lensa yang lain, terutama lensa EF untuk kamera Canon EOS memiliki diafragma elektro-mekanik yang dioperasikan lewat motor atau penggerak listrik kecil.
Kecepatan rana atau Shutter Speed adalah ukuran kecepatan rana membakar medium penangkap cahaya (lebih umum disebut filmatau sensor digital). Umumnya Kecepatan rana terdiri dari urutan angka 8000, 4000, 2000, 1000, 500, 250, 125, 60, 30, 15, 8, 4, 2, dan 1. Angka ini merupakan angka kebalikan dari lama pajanan dalam detik. Misalnya angka 30 berarti 1/30 detik, dan seterusnya.
Untuk kecepatan rana lebih lama dari 1 detik menggunakan tanda ". Sementara kecepatan rana bebas sesuai dengan pemencetan tombol rana olehfotografer diberi tanda B(Bulb).
Namun angka tersebut tidaklah mutlak. Banyak produsen kamera menggunakan kecepatan rana yang hanya mendekati angka tersebut. Kecepatan rana mempengaruhi eksposur cahaya yang membakar film. Semakin cepat pembukaan rana, semakin sedikit cahaya membakar medium, dan sebaliknya. Hal ini akan mempengaruhipajanan.
Pada zaman kamera masih memakai film dan belum menggunakan rangkaian pembantu elektronik, untuk bisa memotret dengan baik, diperlukan pemahaman teori fotografi yang matang. Secara umum, teori fotografi ini melingkupi cara kerja rana dan diafragma pada kamera, pemahaman akan panjang fokal lensa, pemahaman akan kepekaan rekam film serta pemahaman akan komposisi.
Pada era digital, sebagian besar teori fotografi sudah diambil alih “komputer” pada kamera. Namun, pada era digital pula makin banyak kesalahan baru yang timbul. Kesalahan-kesalahan baru ini timbul karena realitas elektronik dan digital yang juga barang baru di muka bumi ini. Perusahaan Panasonic telah melakukan survei atas kesalahan-kesalahan pemula yang hasilnya sebagai berikut:
Kesalahan tertinggi pada pemakai kamera digital, yaitu sampai 35,2 persen, adalah baterai habis. Kamera digital memang hanya bekerja kalau ada baterai di dalamnya. Maka, kamera digital yang laris umumnya punya baterai yang awet, minimal bisa untuk 500 kali pemotretan. Kesalahan pemula yang menduduki peringkat kedua adalah gambar kabur akibat kamera bergoyang saat digunakan, yaitu mencapai 29,3 persen. Goncangan kamera alias camera shake memang kesalahan pemakai. Namun, kamera yang baik akan meminimalkan hal ini dengan bentuknya yang ergonomis dan kecepatan rana yang lebih tinggi. Gambar kabur akibat goyangan subyek yang difoto juga mendominasi hasil survei, yaitu dengan 22,7 persen. Kesalahan ini adalah akibat pemakai salah memperkirakan kecepatan rananya. Untuk dua kesalahan tersebut, perusahaan Panasonic telah mengatasinya dengan fasilitas ISO otomatis dalam kamera-kamera terbaru mereka. Dengan fasilitas ini, sebuah kamera akan menaikkan setelan ISO kalau mendeteksi kemungkinan adanya goyangan. Dengan naiknya ISO, otomatis kecepatan rana ikut naik. “Time lag”.
Kesalahan pemula yang persentasenya menduduki nomor tiga adalah terlambatnya memotret adegan akibat kelambatan sang kamera bereaksi. Hal ini lazim disebut time lag, yaitu jeda antara saat rana ditekan dan saat kamera bereaksi. Mungkin time lag adalah masa lalu karena saat ini kamera yang beredar umumnya sudah punya reaksi cepat. Kesalahan yang juga cukup tinggi terjadinya, dengan persentase 16,8 persen, adalah salah fokus. Kesalahan ini umumnya menyangkut focusing pit alias fokus lari ke bidang nun jauh di sana. Oleh Panasonic, kesalahan ini dieliminasi lewat kemampuan kamera mencari fokus ke wajah manusia terdekat alias fasilitas face detection. Kesalahan-kesalahan lain hasil survei adalah foto terlalu gelap (19,3 persen), memori penuh (16,5 persen), foto terlalu terang (12,2 persen), salah white balance (6,8 persen), salah penyetelan piksel (10 persen), salah kecepatan rana (5,4 persen), dan salah ISO (3,7 persen).
Di masa mendatang, kalau semua kesalahan sudah bisa diatasi, mungkin siapa pun bisa menghasilkan foto yang bagus secara teknik. Namun, kembali ke realita bahwa foto bukanlah matematika, foto bagus atau foto buruk secara isi akan terjadi karena faktor ini tidak bisa digantikan komputer seperti apa pun. Fotografi memang sudah menjadi realita kehidupan modern, bukan lagi hobi atau profesi semata.
Dunia fotografi sekarang ini benar-benar mengalami perubahan yang drastis. Masa-masa mengisi gulungan plastik yang dicampur dengan bahan-bahan kimia di belakang sebuah kamera tampaknya akan berakhir. Kebosanan menunggu film diproses di lab pun akan berakhir. Era kamera digital sekarang ini sudah menyeliputi siapa saja, dan semua orang akan mencoba pengalaman baru dan memanfaatkan kemajuan yang dicapai dalam teknologi kamera ini. Memang, di sisi lain kita masih melihat kalau kamera digital sekarang ini masih menyimpan kemiripan dengan kamera yang selama ini kita kenal. Bentuk kotak yang terbungkus plastik atau kerangka besi ringan masih tetap melekat dengan lensa yang mengatur ketajaman fokus maupun aperture dan shutter yang mengatur berapa banyak cahaya yang bisa masuk ke dalam kamera. Perbedaannya hanya tidak adanya rol film yang selama ini kita kenal.
Pengalaman menggunakan kamera digital dan konvensional memang memberikan beberapa nuansa yang sama sekali baru. Setidaknya, hasil foto-foto yang diambil bisa langsung dilihat hasilnya seketika. Hasil seketika ini memang memberikan dimensi lain, antara lain siapa saja dan di mana saja seseorang berada bisa berbagi foto hasil jepretannya dalam seketika. Hal lain yang juga dicermati adalah proses belajar fotografi pun menjadi semakin cepat dan bisa disimak oleh siapa saja yang berminat tanpa khawatir akan membuang uang karena harus membeli beberapa rol film.
Pilihan kamera digital di pasaran sekarang ini pun beragam macam. Jasa fotografi yang biasanya dilakukan oleh perantara sebuah lab foto, sekarang mulai diambil alih oleh situ-situ Web di jaringan Internet. Teknologi kamera digital yang dimulai dengan gambar-gambar beresolusi rendah, sekarang sudah jauh berkembang dibanding lima tahun lalu dan tetap mampu mempertahankan semboyan "lebih indah dari aslinya". Akan tetapi, di sisi lain, pun sampai pada sebuah taraf kebingungan ketika memilih kamera mana yang memberikan hasil terbaik, karena selain teknologi yang dikandung kamera digital sekarang ini semakin mendekati satu sama lain, harga yang ditawarkan pun beragam. Apalagi, berbagai aksesori kamera, seperti tambahan lensa sudut lebar maupun lensa tele, serta pilihan pencahayaan menggunakan lampu flash juga beragam.
Sekilas, persaingan piksel dalam kamera digital menjadi ajang persaingan yang setara seperti halnya persaingan kecepatan prosesor komputer PC yang setiap kali selalu diperbarui dalam kurun waktu tertentu menambah gigahertz yang sudah ada di pasaran. Oleh karena itu, kita jangan sampai terkecoh dengan jumlah megapiksel yang digembar-gemborkan penjual kamera digital, karena benar bahwa ada kamera yang mempunyai jumlah megapiksel yang lebih banyak tapi tidak serta-merta kamera ini menjadi yang terbaik.
Yang perlu diingat adalah semakin banyak sel-sel sensitif foto yang ditampung dalam chip CCD (Charge Coupled Device) yang mengatur sensitivitas pencahayaan, semakin banyak gangguan-gangguan elektronik yang dihasilkan. Hanya pembuat sirkit elektronik yang cerdik dan canggih yang mampu menangani persoalan ini. Dan sekarang ini memang menjadi persoalan serius, karena belum terlihat siapa penghasil chip CCD terbaik sekarang ini yang menurut pengamatan memang akan didominasi oleh banyak perusahaan seperti Canon, Nikon, Fuji, Sony, dan lainnya.
Fotografi adalah seni melihat. Karena fotografi mengajarkan pada kita cara yang unik dalam melihat dunia dan sekaligus memberikan penyadaran baru akan segala keindahan yang ada di sekitar kita - dalam kehidupan sehari - hari manusia, pada secercah senyum tulus anak desa, pada wajah - wajah yang bersimbah keringat di sawah atau ladang, dalam keagungan alam semesta, pada sekuntum kembang rumput di tepi lubuk atau pada kerapuhan lingkungan hidup di bumi di mana kita semua menjadi bagian yang tak terpisahkan. Suatu perpaduan yang indah dan hanya dapat disadari oleh seseorang yang peka, peka terhadap kombinasi tersebut. Butuh suatu perasaan yang kuat untuk bisa memadukan hal-hal indah tersebut. Tidak sekedar sembarang ide bisa membuahkan suatu keabadian yang patut dan layak dikenang. Terkadang apa yang menjadi ide dasar kita dalam mengabadikan sesuatu tidak sesuai dengan yang sudah kita rencanakan. Ditambah lagi dengan harus adanya chemistry atau yang disebut juga sebagai kecocokan si fotografer dengan kameranya. Hal ini mendukung si fotografer untuk bersikap tanggap dengan lingkungan yang juga didukung oleh kepandaian dan kemahirannya dalam menggunakan kameranya. Dengan adanya kecocokan tersebut, kesalahan-kesalahan yang penulis sebutkan di atas bisa diminimalisir oleh sang fotografer atau bahkan tidak ada.
Fotgrafi memang terlihat agak sepele. Sesepele menekan tombol ke arah objek yang kita kehendaki. Mudah saja, semudah membangkitkan keinginan untuk melakukan dan merekam sesuatu. Namun, bila terjun di dalamnya, ada banyak poin yang bisa dijadikan titik acuan dalam mengabadikan momen, dan ada banyak cara pula dalam pengabadian tersebut sesuai dengan yang penulis sebutkan di atas. Kekreativitasan kita pun sangat berperan tinggi dalam hal ini. Untuk itu tetaplah terus mencoba, anda akan menemukan suatu agama baru, nabi baru yang kita agung-agungkan. Di klub fotografi dimana saya bergabung sering terdengar petisi semacam ini: “Merk kamera bukan agama, kreativitas yang utama.” Tidaklah penting apapun kamera anda, Canon, Nikon, Sony, ataupun yang lain-lain. Yang terutama adalah kreativitas. Salam fotografer!
Daftar Pustaka
a. Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Fotografi
b. Photo Copies, http://apphoto.8m.com/note04.htm
c. Fotografi Adalah Seni Melihat, http://www.facebook.com/note.php?note_id=294190606152
d. Fotografi Adalah Seni Melihat, http://id.88db.com/id/Knowledge/Knowledge_Detail.page/Foto-Multimedia/?kid=24847
e. Fotografi Adalah? , Deviant Art, http://terlalurisky.deviantart.com/journal/26932120/
